MENTERI BARU HARAPAN BARU, Jika tidak? apa kata DUNIA?

Subadi_Pak Kamad MI TarBoy
========
Ngomongin soal kata-kata motivasi atau kata-kata mutiara, Indonesia adalah gudangnya. Terlebih dalam hal motivasi belajar, ribuan kata motivasi bisa kita temukan dengan sangat mudah. Pahlawan kita, dari Sabang sampai Merauke semuanya memiliki semangat tinggi dalam meraih dan mengenyam pendidikan. Banyak peninggalan mereka dalam bentuk kata-kata motivasi yang sampai saat ini masih relevan dan bisa menggugah semangat belajar setiap anak bangsa yang Budiman.

Misalnya saja Tan Malaka  berkata; “Tujuan pendidikan itu untuk mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan serta memperhalus perasaan”. Lalu, dari Bung Karno "Belajar tanpa berpikir itu tidaklah berguna, tapi berpikir tanpa belajar itu sangatlah berbahaya!”. Hingga  “Tut Wuri Handayani”nya Ki Hajar Dewantara yang kita sampai hafal pun, telah tertulis pada buku-buku sejarah kita. Dan masih banyak lagi.

Kata-kata motivasi yang keluar dari para ilmuan, sastrawan, dan pejuang tentu memiliki arti penting bagi generasi selanjutnya, menjadi bagian pembakar semangat untuk berjuang dan belajar dengan keras. Terlebih, bagi para pemangku kebijakan di pemerintahan bisa lebih bersungguh-sungguh dalam menyiapkan dan menyusun konsep sistem pendidikan yang relevan bagi warga negaranya. Sehingga, kualitas pendidikan di Indonesia semakin meningkat dan membanggakan. Sehingga kata-kata motivasi warisan luhur itu mampu menjadi sumber inspirasi dan pembangkit semangat. 

Hari ini, melek data menjadi bagian yang sangat penting dalam kehidupan. Sebab, dengan mengetahui data, kita akan dihadapkan pada kenyataan sesungguhnya. Coba saja cek data peringkat pendidikan kita, faktanya berada dalam kondisi yang memprihatinkan dan menyedihkan. Peringkat rata-rata IQ Indonesia hanya menempati peringkat 130 dari 199 negara di dunia. Tambah sedih ketika melihat fakta bahwa peringkat sistem pendidikan kita hanya menempati peringkat 54 dari total 77 negara di dunia. Hari ini pula, Indonesia menempati peringkat 60 dari 61 di dunia sebagai negara paling terliterasi. Dan seterusnya. Pasti kondisi ini sama sekali tidak kita harapkan, tentu ini ada yang salah dengan. Sistem pendidikan nasional kita. 

Hal-hal tersebut tentunya sangat berefek pada kehidupan masyarakat Indonesia. Negara yang paling tidak terliterasi contohnya, yang paling parah di antara semua itu. Bukan hanya berdampak negatif pada sesama masyarakat kita, tapi juga mendapat pendangan yang negatif dari dunia internasional. Secara mengejutkan, Indonesia ditempatkan pada peringkat pertama sebagai negara dengan netizen paling tidak sopan se-Asia. Bahkan, negara kita tercinta dinobatkan sebagai peringkat 4 di dunia. Bukankah kita sangat miris dengan fakta ini ketika kita dalam waktu yang berbarengan membangga-banggakan negara kita sebagai negara paling ramah dan sopan santun di dunia? Hal menyedihkan tersebut terjadi karena netizen lokal kita sangat mudah terbakar emosi, terpancing berita bohong dan misinformasi, dan tidak atau belum mengerti bagaimana adab dalam berkomunikasi secara maya. Dapat kita setujui, penyebabnya adalah, tidak lain dan tidak bukan, ya faktor pendidikan.

Ada lagi, hal yang bikin nyesek sampai ke hati adalah fakta terakhir. Fakta dimana kita dikejutkan oleh kenyataan betapa sudah berkembang dan bertumbuhnya pendidikan negara tetangga kita, Malaysia. Bukankah kita kaget, saat kita bernostalgia 40-50 tahun yang lalu, betapa banyaknya mahasiswa dari Malaysia yang datang jauh-jauh ke Indonesia untuk belajar? Dan berapa banyak guru yang kita kirim kesana untuk mengajar? Namun, bukankah kondisi sekarang berbalik 180 derajat, dimana banyak mahasiswa kita yang pergi jauh-jauh ke negeri Jiran dikarenakan kualitas pendidikan mereka jauh lebih baik?

Dalam beberapa sumber yang saya temui, hal-hal tersebut terjadi karena beberapa hal. Pertama, kompetensi guru di Indonesia masih berada di tingkat yang sangat rendah. Padahal, kualitas murid atau siswa yang belajar dari pendidikan di Indonesia nyatanya dipengaruhi oleh tenaga pengajar yang kompeten. Belum lagi, permasalahan tidak kalah penting dari tenaga pengajar di Indonesia adalah permasalahan mengenai guru honorer yang terkadang mendapat perhatian dan apresiasi kurang layak. Bukan hanya dari segi materi, melainkan juga apresiasi moral yang belakangan ini tak dimungkiri kerap menimbulkan permasalahan serius. Kedua, (inilah yang saya sangat ingin tekankan kepada para pembaca) yaitu kaku dan membelenggunya kurikulum, mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Hal tersebut tentunya mengurangi, atau bahkan membunuh, kreatifitas siswa dan juga mahasiswa. Di samping itu, setiap orang memiliki talenta dan minat yang berbeda-beda, sehingga tidaklah adil apabila semuanya harus dipukul rata dengan sistem yang sama.

Memang, jika harus ditelisik lebih dalam lagi, permasalahan yang sangat kompleks ini membutuhkan solusi yang sangat kompleks pula. Sehingga, saya sebagai penulis merasa bahwa memberi informasi terkait fakta lapangan tentang pendidikan sudahlah cukup. Saya berharap, kita semua dapat mengerti kondisi pendidikan di negeri tercinta kita ini. Sehingga kita dapat lebih berintrospeksi diri sembari melakukan yang lebih baik untuk pendidikan kita, khususnya kepada anak kita yang masih mengenyam pendidikan formal, ataupun kita yang sedang melakukan studi lanjut.

Dengan pemerintahan dan menteri baru besar harapan mampu merubah kebijakan-kebijakan yang sama sekali tidak relevan. Sehingga kualitas pendidikan kita semakin bangkit dari keterpurukan. Jika terus mundur, LALU APA KATA DUNIA?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

VISITASI TINDAK LANJUT BIMTEK AKMI 2023 [MI Tarbiyatussibyan Boyolangu]

Jangan Ragu Sekolah di RA TarBoy

GENDURI PERESMIAN GEDUNG BARU MI TARBIYATUSSIBYAN BOYOLANGU